Setiap Tahun Terulang, Sampah Menggunung di Kota Tangerang Selatan

Sampah tangsel

KLIKBERITA24.COM - Krisis sampah kembali menjadi sorotan utama di Kota Tangerang Selatan (Tangsel) seiring tumpukan sampah yang menggunung di berbagai sudut kota, khususnya sepanjang Flyover Ciputat, Jalan Dewi Sartika, dan kawasan pasar Cimanggis.

Situasi ini terjadi setelah Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Cipeucang ditutup sementara untuk penataan dan perbaikan konstruksi, sehingga volume limbah menumpuk di ruang publik dan trotoar jalan.

Banyak warga melaporkan tumpukan sampah mencapai ketinggian signifikan di beberapa titik hingga menimbulkan bau menyengat yang mengganggu aktivitas harian masyarakat serta pedagang setempat.

Kejadian ini bukan sekadar persoalan teknis lokal, melainkan memunculkan kekhawatiran terkait kualitas hidup dan sanitasi lingkungan bagi warga Tangsel yang terbiasa mengandalkan layanan pengelolaan limbah yang belum stabil.

Pemerintah setempat telah mengambil langkah darurat dengan menutup sementara area landfill di TPA Cipeucang untuk dilakukan penataan dan normalisasi saluran air serta struktur tanah untuk mencegah longsor dan memastikan keamanan fasilitas jangka panjang.

Namun, penutupan itu justru menyebabkan sistem pengangkutan limbah yang telah rapuh menjadi kolaps total, sehingga truk pengangkut tidak dapat membuang muatan dan menyebabkan sampah meluap ke jalan umum.

Kondisi ini memunculkan kritik publik dan seruan untuk mengatasi persoalan sampah secara lebih sistematis dan berkelanjutan, termasuk upaya penguatan sistem penampungan dan pengawasan.

Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) menyebut penutupan TPA Cipeucang sebagai momentum untuk koreksi total tata kelola sampah yang lebih komprehensif dan menekankan perlunya manajemen sampah yang berorientasi pada zero waste.

Dampak Penutupan TPA Cipeucang dan Solusi Tata Kelola Sampah

Sampah tangsel (2)

Krisis sampah di Kota Tangerang Selatan (Tangsel)

Penutupan sementara TPA Cipeucang telah menyebabkan penumpukan sampah di berbagai kawasan karena tidak ada tempat pembuangan yang memadai untuk limbah rumah tangga dan pasar.

Sumber daya pengangkutan yang terbatas dan penyimpanan sementara menjadi tekanan besar bagi sistem pemrosesan limbah kota yang sudah berada di ambang kapasitas.

Menurut data yang dipublikasikan media lokal, tumpukan sampah ini telah menciptakan defisit harian dalam proses pengangkutan limbah yang selama ini hanya dapat dilakukan sebagian, sehingga sampah terus menumpuk di depo transit dan fasilitas sementara.

Kondisi ini menunjukkan bahwa krisis sampah di Tangsel bukan hanya akibat penutupan TPA, tetapi masalah struktural dalam sistem pengelolaan limbah kota.

Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Tangsel telah mulai mengangkut sampah dari trotoar dan bahu jalan ke Tempat Pengolahan Sampah Reuse, Reduce, Recycle (TPS3R) sebagai upaya sementara.

Meski demikian, kapasitas TPS3R terbatas dan hanya dianggap solusi sementara sebelum sampah dapat dibawa kembali ke TPA setelah struktur fasilitas selesai ditata.

Sebagai bagian dari langkah perbaikan jangka pendek, Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) turut membantu proses pengangkutan 116 ton sampah di Pasar Cimanggis setelah mencuatnya keluhan warga mengenai bau serta potensi pencemaran lingkungan yang lebih besar.

Menteri Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq, menegaskan bahwa pihaknya merespons cepat aduan masyarakat untuk memastikan pengangkutan dan penataan lokasi berjalan secara efisien.

Walikota Tangerang Selatan, Benyamin Davnie, juga menjelaskan bahwa perbaikan TPA Cipeucang ditargetkan selesai pada akhir Desember 2025 sehingga fasilitas dapat kembali menerima sampah dari seluruh wilayah kota.

Selain itu, Pemkot Tangsel berencana mengembangkan solusi jangka panjang seperti Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) dan Material Recovery Facility (MRF) untuk menunjang pengelolaan limbah secara lebih modern dan berkelanjutan.

Kondisi penumpukan sampah ini menjadi pengingat bagi pemerintah dan masyarakat bahwa masalah sampah di perkotaan membutuhkan manajemen yang tidak hanya reaktif, tetapi juga preventif dan berkelanjutan.

Tanpa kebijakan pengurangan sampah di hulu dan dukungan infrastruktur pengelolaan yang memadai, masalah ini kemungkinan akan terus muncul setiap tahunnya, terutama saat fasilitas utama terganggu.

Selain itu, sejumlah lembaga lingkungan mengajak masyarakat untuk turut berpartisipasi dalam memilah sampah sejak di sumbernya melalui bank sampah dan program pengurangan limbah rumah tangga yang telah dijalankan di beberapa kecamatan.

Upaya ini diharapkan dapat membantu mengurangi beban volume limbah yang masuk ke fasilitas pembuangan akhir dan memperbaiki efektivitas pengelolaan sampah secara keseluruhan.

Secara keseluruhan, kondisi sampah yang menggunung di Kota Tangerang Selatan mencerminkan tantangan besar dalam tata kelola limbah perkotaan yang harus diatasi dengan strategi jangka pendek maupun solusi jangka panjang.

Kolaborasi antara pemerintah, pemangku kepentingan, dan masyarakat menjadi kunci dalam membangun sistem pengelolaan sampah yang lebih tangguh, efektif, dan berkelanjutan di masa depan. (sgsa)