Review Film A Normal Woman: Film Bagus Tak Cukup Estetika Visual

A normal woman membuktikan bahwa kualitas sebuah film tak cukup hanya bergantung pada bujet besar dan tampilan produksi yang ciamik

KLIKBERITA24.COM - A Normal Woman membuktikan bahwa kualitas sebuah film tak cukup hanya bergantung pada bujet besar dan tampilan produksi yang ciamik. Kekuatan sejati film tetap berada pada alur cerita dan penyampaian yang mampu menyentuh penonton secara emosional.

Namun sayangnya, film garapan Lucky Kuswandi ini baru memenuhi sebagian dari rumus tersebut.

Film ini sebenarnya hadir dengan niat yang terbilang mulia. Mengangkat tema kesehatan mental, film ini mencoba menyuarakan berbagai stigma sosial terhadap isu tersebut dalam balutan visual yang estetik dan modern.

Sayangnya, alih-alih terasa menyentuh, film ini justru menyuguhkan narasi seolah seperti menghadiri sesi sosialisasi. Pesan moral yang disampaikan terkesan hambar, terlalu formal, dan tidak membekas secara emosional.

Padahal, secara konsep, A Normal Woman sudah mencakup elemen-elemen dasar dari drama psikologis dan thriller. Ada konflik emosional, tekanan psikis, bahkan adegan-adegan yang berpotensi memicu rasa tak nyaman.

Namun begitu, semua itu tak cukup menggugah emosi saya sebagai penonton. Penyampaian yang kurang terasa personal membuat film ini kehilangan daya tarik dramatisnya. Walau dibubuhi simbolisme yang edgy, tetap saja tak memberi efek berarti.

“Entah karena saya terlalu ‘zen’ atau memang kedua penulis mungkin tidak mengalami sendiri konflik emosi yang mereka tulis?”

Secara garis besar, film ini menyajikan tema yang penting. Saya pribadi mendukung film yang berani membicarakan masalah kesehatan mental, apalagi jika berkaitan dengan stigma yang sering kali menambah penderitaan.

Film ini pun sebenarnya menggambarkan berbagai bentuk sikap meremehkan yang sering diterima oleh penyintas gangguan mental. Mulai dari pengabaian emosi hingga perlakuan salah yang malah memperburuk kondisi mereka.

Namun, cara penyampaian yang digunakan oleh Lucky dan Andri terasa seperti proyek tugas kuliah. Memenuhi standar, tetapi tidak punya daya sentuh bagi penontonnya.

A normal woman tak sepenuhnya gagal. jika ada satu hal yang patut dipuji, maka itu adalah penampilan akting widyawati.

A Normal Woman tak sepenuhnya gagal. Jika ada satu hal yang patut dipuji, maka itu adalah penampilan akting Widyawati.

Meski begitu, A Normal Woman tak sepenuhnya gagal. Jika ada satu hal yang patut dipuji, maka itu adalah penampilan akting Widyawati.

“Kalau ditanya apa yang paling bagus dari film ini, saya tidak ragu akan menjawab: Widyawati.”

Ia tampil luar biasa sebagai mertua yang menyebalkan. Tatapan tajam dan ekspresi intimidatifnya begitu hidup, mampu menembus layar bahkan hanya lewat sorotan mata.

Perannya sebagai sosok orang tua yang merasa paling tahu segalanya tersampaikan sempurna. Dialog-dialog yang menusuk dan dominasi karakter membuatnya jadi pemicu utama emosi dalam film ini.

Sayangnya, keunggulan Widyawati tidak didukung secara merata oleh pemeran lainnya. Marissa Anita, meski sudah tampil dramatis dengan adegan ekstrem, belum berhasil mencuri perhatian dalam film ini. Begitu pula dengan Dion Wiyoko yang karakternya terlihat kurang berkembang.

Hal mengejutkan justru datang dari Gisella Anastasia. Ia tampil cukup kuat sebagai karakter pendukung dan justru mencuri perhatian lebih banyak dibandingkan dua pemeran utama.

“Gisel bahkan tak perlu berucap apa pun saat pertama kali masuk layar dan penonton sudah bisa menebak dirinya akan menjadi perusak rumah tangga.”

Ekspresinya mampu membangun ketegangan sejak kemunculan awal. Ia juga berhasil memainkan karakter pengkhianat sahabat dengan baik, meski sayang peran tersebut terasa kurang dieksplorasi lebih dalam oleh penulis.

Saya percaya bahwa jika karakter Gisella diberi porsi lebih besar, unsur emosional dalam film bisa meningkat tajam. Ini adalah potensi yang sayangnya belum dimaksimalkan.

Dari segi teknis, A Normal Woman patut diapresiasi. Rumah mewah yang digunakan sebagai latar, sinematografi yang bersih, serta penggunaan efek visual dan komputerisasi yang halus memberi nilai tambah.

Tapi semua itu tetap tak mampu menambal kelemahan paling utama dari film ini: ceritanya tidak cukup kuat untuk memikat dan menyentuh hati.

Drama Korea The Penthouse yang terkesan dramatis dan berlebihan justru lebih mampu memainkan emosi penonton. Padahal secara logika cerita, The Penthouse terkesan absurd. Namun ia punya karakter yang kuat, cerita yang emosional, serta penuturan yang berhasil membangun keterlibatan penonton.

Hal inilah yang gagal dicapai oleh A Normal Woman. Pada akhirnya, film ini hanya terasa “normal” sebagaimana judulnya. Ia hanya menjadi satu dari sekian banyak film Netflix yang terkesan belum melewati proses kurasi ketat. (WAN)