Produser Bantah Film Merah Putih: One for All Didanai Pemerintah

Film animasi merah putih

KLIKBERITA24.COM - Produser eksekutif film animasi Merah Putih: One for All, Sonny Pudjisasono, menanggapi langsung kabar yang menyebut produksi film tersebut dibiayai pemerintah hingga Rp6,7 miliar.

Ia menilai informasi itu sebagai fitnah keji yang tidak benar dan merugikan kredibilitas pemerintah di mata publik.

“Jadi kalau sampai ada yang mengatakan, kan kasihan pemerintah ini. Pemerintah ini sedang melakukan efisiensi. Tiba-tiba pemerintah ngegulunturkan dana Rp6 milar sekian itu untuk menunjang seperti itu, saya pikir ya kita, kita menjaga kredibilitas pemerintah. Pemerintah digitukan kan, kasian juga,” kata Sonny saat berbincang.

Ia menjelaskan, jika kabar bohong tersebut terus bergulir, publik bisa salah paham dan menganggap pemerintah melakukan pemborosan di tengah situasi ekonomi yang menuntut efisiensi ketat.

Hal itu menurutnya tidak adil, baik bagi pembuat film maupun bagi pemerintah yang sedang menjaga anggaran negara.

“Di sisi lain dia dihujat pemborosan segala macam, ya itu fitnah, fitnah yang sangat keji. Kalau ada orang mau ngomongan kita menggunakan dana pemerintah, pemerintah yang mana? Pemerintah itu, dengan memberikan dukungan moral, itu aja kita udah angkat topi. Kita udah hormat kalau ada pemerintah memberikan apresiasi,” lanjutnya.

Sonny menegaskan, pihaknya tidak pernah menerima dana hibah atau bantuan dalam bentuk apa pun dari pemerintah.

Sonny pudjisasono

Produser eksekutif Sonny Pudjisasono menegaskan film Merah Putih: One for All sepenuhnya dibiayai swadaya animator.

Ia bahkan menilai tuduhan tersebut sangat merugikan di tengah upaya semua pihak untuk menjaga pengelolaan anggaran negara.

“Ya, kalau ada yang mengatakan kita dapat suntikan dana dari pemerintah, ya itu jelas fitnah. Kasian dong pemerintah yang lagi susah, duit masa mau dihambur-hamburkan begitu,” ujarnya lagi.

Terkait anggaran, Sonny memaparkan bahwa biaya produksi Merah Putih: One for All berada di kisaran Rp6 hingga Rp7 miliar. Jumlah itu mencakup seluruh proses produksi, mulai dari pra-produksi, animasi, hingga penyelesaian akhir.

“Kalau kita uangkan, kalau jadi uang semua, itu ya sekitar RP6 M sampai Rp7 M malahan gitu, semua,” jelasnya.

Namun, ia menekankan bahwa seluruh dana tersebut berasal dari kontribusi para animator dan pekerja kreatif yang tergabung dalam proyek ini. Tidak ada aliran dana dari APBN, kementerian, ataupun lembaga negara.

“Enggak, sumbangan kawan-kawan. Teman-teman animator sendiri,” tegas Sonny.

Semangat gotong royong menjadi kunci terselenggaranya produksi film ini. Menurut Sonny, momen peringatan 17 Agustus sebagai Hari Kemerdekaan Indonesia membuat banyak kreator tergerak untuk menyumbangkan waktu, tenaga, dan keahlian mereka.

“Gotong royong itu tadi. Jadi semangat gotong royong. Kita mengangkat ini merah putih semangat gotong royong merah putih ini, dalam rangka cuma 17 Agustus. Mungkin kalau gaada momen 17 Agustus dalam rangka kemerdekaan mereka juga ogah. Karena mereka tersentuhnya itu,” ujarnya.

Bagi para pembuatnya, film ini bukan sekadar proyek animasi, melainkan bentuk kontribusi nyata bagi bangsa. Lewat karya ini, mereka ingin menunjukkan bahwa komunitas kreatif bisa menghasilkan karya besar tanpa ketergantungan pada dana pemerintah.

“Apa yang kita bisa sumbangkan kepada bangsa dan negara ini, karena kita adalah pekerja kreatif perfilman, ini loh kita, bikin karya ini. Ayo kita bikin patungan ini semua,” kata Sonny.

Dengan penjelasan ini, ia berharap publik bisa memahami fakta sebenarnya. Merah Putih: One for All sepenuhnya lahir dari swadaya dan semangat kebersamaan para kreator, bukan dari bantuan pemerintah.

Sonny menegaskan, isu yang beredar selama ini adalah kabar bohong yang tidak hanya merugikan pihak pembuat film, tetapi juga mencederai reputasi pemerintah yang sedang menjaga anggaran. (vip)