Industri Fintech Kian Solid, BFN 2025 Jadi Ajang Penguatan Kolaborasi

BFN

KLIKBERITA24.COM - Bulan Fintech Nasional 2025 menjadi momentum penting bagi penguatan kolaborasi industri keuangan digital, khususnya di sektor fintech lending atau pinjaman daring.

Pertumbuhan industri yang terus berlanjut dinilai sebagai sinyal kuat bahwa layanan keuangan berbasis teknologi semakin diterima dan dibutuhkan oleh masyarakat luas.

Direktur Utama AdaKami, Bernardino Moningka Vega, menegaskan bahwa tren positif ini harus dimanfaatkan sebagai peluang untuk memperluas akses layanan keuangan digital yang aman, terjangkau, dan bertanggung jawab.

Menurutnya, pertumbuhan industri pinjaman daring bukan sekadar soal angka, tetapi juga tentang bagaimana fintech mampu menjawab kebutuhan pembiayaan masyarakat secara inklusif.

Pernyataan tersebut disampaikan Bernardino dalam sesi paparan pada Bulan Fintech Nasional Festival yang diselenggarakan oleh Asosiasi Fintech Indonesia (AFTECH) di Jakarta.

Dalam forum tersebut, ia mengungkapkan bahwa industri pinjaman daring mencatat pertumbuhan penyaluran sebesar 22,16 persen secara year-on-year pada September 2025.

Total penyaluran dana bahkan telah mencapai Rp90,99 triliun, mencerminkan peran fintech lending yang kian signifikan dalam ekosistem keuangan nasional.

Capaian tersebut menunjukkan bahwa layanan pinjaman daring telah menjangkau populasi yang lebih luas dan semakin diandalkan sebagai alternatif pembiayaan di luar sistem perbankan tradisional.

BFN

BFN 2025 menyoroti pentingnya kolaborasi untuk menjaga pertumbuhan industri fintech lending yang sehat.

Bagi banyak masyarakat yang belum sepenuhnya terlayani bank, fintech lending hadir sebagai solusi yang lebih cepat dan fleksibel.

Dalam paparannya, Bernardino menekankan pentingnya peran fintech lending dalam memperluas akses kredit yang inklusif.

Ia menyampaikan bahwa AdaKami menempatkan penguatan teknologi dan tata kelola sebagai prioritas utama agar pertumbuhan bisnis dapat berjalan seiring dengan prinsip kehati-hatian.

Langkah ini dinilai penting untuk memastikan bahwa penyaluran pendanaan tidak hanya mendorong pertumbuhan ekonomi, tetapi juga tetap bertanggung jawab.

“Fintech lending hadir untuk menjembatani kebutuhan akses keuangan masyarakat secara lebih cepat, aman, dan terukur. Di AdaKami, visi kami adalah menjadi perusahaan fintech lending dengan teknologi terdepan di Indonesia, sehingga kami dapat mendukung pertumbuhan ekonomi melalui pendanaan yang bertanggung jawab,” ujar Bernardino, dalam keterangan tertulis, Jumat (12/12/2025).

Lebih lanjut, Bernardino menyoroti bahwa keberlanjutan industri fintech lending tidak bisa dibangun secara parsial.

Menurutnya, kolaborasi multidimensi menjadi kunci utama, terutama yang menggabungkan pemanfaatan data, manajemen risiko, serta integrasi teknologi.

Kolaborasi ini dinilai krusial untuk menjaga kesehatan portofolio pembiayaan, memitigasi risiko gagal bayar, sekaligus memperluas jangkauan kredit yang layak bagi masyarakat.

Dalam sesi panel yang sama, ia menjelaskan bahwa penguatan kolaborasi tersebut bertumpu pada beberapa fondasi penting yang perlu dibangun bersama antara pelaku industri dan regulator.

Salah satunya adalah kolaborasi data yang bertanggung jawab. Pertukaran data antara platform pinjaman daring, biro kredit, dan penyedia data alternatif memungkinkan terciptanya riwayat kredit yang lebih komprehensif dan akurat.

Dengan data yang lebih kaya, proses penilaian risiko dapat dilakukan secara lebih presisi. Selain itu, integrasi data dengan sistem penilaian kredit yang inovatif juga membantu meningkatkan kualitas underwriting dan menekan potensi gagal bayar.

Pemanfaatan intelijen penipuan bersama serta data perilaku yang telah dianonimkan turut memperkuat keamanan ekosistem fintech lending secara keseluruhan.

Bernardino juga menekankan pentingnya standardisasi dalam penilaian risiko. Kerangka skoring yang interoperable antar lembaga dinilai mampu menghasilkan penilaian risiko yang lebih konsisten.

Hal ini tidak hanya mengurangi kesalahan dalam penetapan harga pinjaman, tetapi juga meningkatkan kepercayaan antar pelaku industri dan membuka ruang pertumbuhan yang lebih stabil.

Di sisi lain, skema penjaminan kredit dan berbagi risiko juga dipandang sebagai instrumen penting. Melalui pendekatan ini, kerugian tak terduga, khususnya pada segmen berisiko tinggi atau kelompok yang belum terlayani sistem keuangan formal, dapat diminimalkan.

Dengan adanya mekanisme berbagi risiko yang terarah, pemberi pinjaman memiliki ruang untuk memperluas akses kredit secara lebih bijak tanpa mengorbankan kualitas portofolio.

Seluruh upaya tersebut, menurut Bernardino, akan berjalan optimal jika didukung oleh platform kolaborasi yang terintegrasi, aman, dan teregulasi.

Ekosistem yang saling terhubung memungkinkan terciptanya simbiosis yang sehat, di mana lender dapat tumbuh secara berkelanjutan, borrower memperoleh akses pembiayaan yang adil, dan risiko dikelola secara kolektif.

Menutup paparannya, Bernardino menegaskan komitmen AdaKami untuk terus berinovasi sekaligus memperkuat sinergi dengan regulator, pelaku industri, dan seluruh pemangku kepentingan terkait.

Ia menilai akselerasi keuangan digital harus berjalan seiring dengan prinsip kehati-hatian agar manfaatnya dapat dirasakan secara luas dan berkelanjutan.

“Akselerasi keuangan digital harus dilakukan dengan prinsip kehati-hatian dan kolaborasi. Dengan teknologi yang tepat dan tata kelola risiko yang kuat, kita bisa memastikan pertumbuhan fintech lending yang inklusif dan berkelanjutan,” pungkasnya. (vip)