Bantah Soal Isu Pendanaan Film Merah Putih: One For All, Kemenparekraf Tegaskan Tak Terlibat

Film merah putih one for all tuai kontroversi, mulai dari kualitas visual hingga karakter tokoh

KLIKBERITA24.COM - Film animasi Merah Putih: One For All tengah ramai diperbincangkan publik dan menjadi bahan diskusi luas di media sosial.

Sorotan yang mengemuka tidak hanya berasal dari semangat nasionalisme yang coba diangkat dalam ceritanya, namun lebih banyak mengarah pada kualitas visual dan teknis yang dinilai belum memuaskan.

Di tengah ramainya opini publik, muncul dugaan bahwa film Merah Putih: One For All mendapat pendanaan dari Kementerian Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf).

Akan tetapi, dugaan tersebut langsung dibantah oleh Wakil Menteri Ekonomi Kreatif, Irene Umar, yang menegaskan bahwa pemerintah sama sekali tidak terlibat dalam pembiayaan maupun proses promosi film ini.

“Kami tidak memberikan bantuan finansial dan tidak memberikan fasilitas promosi,” kata Irene saat dikonfirmasi pada Senin, 11 Agustus 2025.

Irene menjelaskan bahwa satu-satunya keterlibatan yang pernah terjadi hanyalah dalam bentuk audiensi yang dilakukan oleh tim produksi film. Dalam pertemuan tersebut, Irene menyampaikan sejumlah saran teknis untuk meningkatkan kualitas film secara keseluruhan.

“Saya sendiri menerima audiensi tim produksi film beberapa waktu yang lalu di mana saya menyampaikan beberapa masukan dari saya termasuk teknikal terkait karakter look, and feels, trailer dan lain-lain,” lanjutnya.

Pernyataan Irene memperkuat posisi pemerintah yang tidak menggunakan dana APBN atau fasilitas negara dalam proyek animasi ini.

Ia menegaskan bahwa kontribusinya bersifat konsultatif, bukan dalam bentuk dukungan materiil atau logistik.

Wamen ekraf irene umar menegaskan jika pihaknya tidak terlibat dalam pendanaan film merah putih one for all

Wamen Ekraf Irene Umar menegaskan jika pihaknya tidak terlibat dalam pendanaan film Merah Putih One For All.

Dari informasi yang beredar di kalangan industri kreatif, pendanaan penuh produksi film Merah Putih: One For All bersumber dari Perfiki Kreasindo, sebuah rumah produksi yang berada di bawah Yayasan Pusat Perfilman H. Usmar Ismail.

Proyek ini disebut menelan anggaran sekitar Rp6,7 miliar, sepenuhnya didukung oleh inisiatif swasta.

Pendanaan dilakukan melalui kolaborasi internal tanpa sokongan dari pemerintah. Model pembiayaan gotong royong ini cukup umum dalam industri kreatif, terutama di sektor film animasi Indonesia yang sedang berkembang namun masih menghadapi berbagai tantangan teknis.

Proses produksi pun terbilang cepat, berlangsung antara Juni hingga Agustus 2025. Rentang waktu yang singkat ini dinilai sebagai salah satu alasan mengapa hasil akhirnya banyak menuai kritik, terutama dari kalangan netizen dan pengamat perfilman.

Beberapa unggahan di platform YouTube dan X mengangkat dugaan penggunaan aset animasi stok dalam adegan-adegan tertentu.

Salah satu kanal YouTube, Yono Jambul, mengklaim bahwa film Merah Putih: One For All menggunakan aset dari Daz3D, termasuk model latar bertema Street of Mumbai, yang merupakan aset stok animasi berbayar yang tersedia secara umum.

Meski klaim ini belum dikonfirmasi langsung oleh tim produksi, keberadaan aset-aset tersebut menguatkan persepsi bahwa proyek film Merah Putih kurang dalam hal orisinalitas dan persiapan visual yang matang.

Isu ini semakin memanaskan perdebatan di dunia maya. Kritik terhadap kualitas visual tidak hanya datang dari sisi teknis semata.

Sejumlah warganet juga menyoroti aspek sinematografi dan desain karakter yang dinilai kurang menggambarkan kualitas film nasional yang layak tayang di bioskop.

Banyak yang menilai bahwa kualitas animasi dalam Merah Putih: One For All masih berada di bawah standar, bahkan jika dibandingkan dengan karya kreator independen yang dipublikasikan secara daring.

Bukan hanya gerakan karakter yang terlihat kaku, tetapi juga ekspresi wajah tokoh-tokohnya dianggap kurang natural.

Selain itu, latar tempat dalam banyak adegan tampak minim detail dan cenderung generik. Kritik lain juga menyebut bahwa film Merah Putih: One For All ini terlihat seperti dikejar tenggat, yang akhirnya mengorbankan kedalaman dan keluwesan animasinya. (fam)